Rabu, 13 Juni 2012

sumber dana luar negeri


BAB II
ISI
2.1  Mengapa Diperlukan Dana Luar Negeri
Sejarah mencatat bahwa pada tahap awal pembangunanya, Negara – Negara yang sekarang dianggap maju pun memanfaatkan dana asing. Hollis B. Chennery dan Alan Strout, dalam sebuah model berdasar bukti empiris dari 50 negara berkembang dari tahun 1957 sampai 1962, mengidentifikasikan tiga tahap pembangunan, yang masing – masing dicirikan oleh faktor kendala pembangunan. Tahap – tahap sekaligus faktor – faktor kendala tersebut yaitu:
1.      Keterbatasan skill,
2.      Gap tabungan, yaitu investasi dikurangi tabungan.
3.      Gap devisa, yaitu impor dikurangi ekspor.
Pada tahap pertama aliran skill dan teknologi dari luar negeri mampu memecahkan, paling tidak mengurangi, masalah pembangunan akibat keterbatasan skil. Akan tetapi dua ekonom tersebut lebih memusatkan perhatian pada tahap 2, pertumbuhan yang terbatasi oleh kurangnya investasi, dan tahap 3, pertumbuhan yang terbatasi oleh gap perdagangan. Dua tahap terakhir diduga sedang menjadi fenomena di Negara berkembang saat ini, dan diharapkan akan bisa diatasi dengan aliran dana luar negeri. 
Bukti-bukti Chenery dan Strout mengindikasikan bahwa pada awal-awal tahap pembangunan, pertumbuhan terkendala oleh terbatasnya investasi. Misalnya sebuah perekonomian mentargetkan untuk tumbuh 4 persen per tahun. Jika ICOR negara tersebut adalah 3, maka akan diperlukan investasi (tambahan kapital) sebesar 12 persen GNP. Jika tabungan yang tersedia hanya 10 persen GNP, maka terdapat gap tabungan-investasi sebesar 2 persen GNP, yang bisa ditutup dengan dana luar negeri. Impor kapital ini akan mengatasi masalah keterbatasan pertumbuhan akibat gap investasi-tabungan.
Untuk menutup gap-gap tersebut diperlukan aliran dana luar negeri. Impor kapital ini akan mengatasi masalah keterbatasan pertumbuhan akibat gap investasi-tabungan serta menghilangkan keterbatasan pertumbuhan akibat gap devisa. Bantuan luar negeri yang diperlukan ditentukan oleh jumlah gap terbesar dari dua gap tersebut. Dalam jangka panjang, dana luar negeri akan menyamakan laju pertumbuhan antara investasi dan tabungan sehingga negara tersebut bisa berhenti meminjam dan membangun dengan dana sendiri.
2.2  Sumber dan Pengguna Dana Luar Negeri
            Bantuan luar negeri bersumber dari pemerintah-pemerintah negara asing. Bantuan ini bisa datang dari sebuah pemerintah asing langsung diberikan ke sebuah negara berkembang, bisa juga datang dari lembaga-lembaga internasional. Kesimpulannya adalah bahwa bantuan luar negeri berasal dari pemerintah negara asing, baik langsung (bilateral) maupun melewati lembaga-lembaga internasional (multilaateral).
            Dana luar negeri berikutnya adalah pinjaman dari bank-bank komersial. Pinjaman komersial ini biasanya berbungan lebih tinggi dan berjangka lebih pendek dari bantuan internasional. Sumber berikutnya adalah investasi dari luar negeri. Investasi ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu investasi asing portofolio berupa pembelian saham dan obligasi, dimana investor tidak mempunyai kontrol langsung atas perusahaan) dan investasi asing langsung (investor membuka cabang perusahaan di negara berkembang dan mempunyai kontrol langsung terhadap perusahaan tersebut).
            Sumber dana berikutnya, yang meskipun tidak berjumlah besar, adalah kiriman dari warga negara yang bekerja di negara lain (remittances), dan juga kredit ekspor. Kredit ekspor adalah penangguhan pembayaran ekspor untuk jangka waktu tertentu sehingga importir bisa mengimpor tanpa uang kas. Untuk negara yang sangat terbuka, yaitu negara yang tingkat perdagangan dunianya sangat tinggi.
            Siapa yang memerlukan dana luar negeri tersebut ? negara-negara Eropa Barat dan Timur serta Amerika dan pada awal pembangunannya juga memerlukan modal asing. Setelah Perang Dunia II, negara-negara Eropa yang kalah perang memerlukan dana untuk membangun kembali negaranya. Pemerintah Amerika Serikat waktu itu, dengan program yang terkenal sebagai Marshall Plan, menyediakan dana untuk pembanguna tersebut. Pembanguna tersebut relatif berhasil. Demikian pula beberapa negara yang baru merdeka memerlukan dana untuk membangun, yang sebagian dibantu oleh negara-negara bekas penjajahnya.
2.3  Tabungan Pemerintah Asing (Bantuan Asing) sebagai Sumber Dana   Pembangunan
            Pinjaman resmi pemerintah asing (Sgo) sering disebut sebagai bantuan asing atau official development assistance (ODA) karena mempunyai syarat-syarat yang lebih ringan dalam pembayarannya dibandingkan dengan pinjaman asing swasta. Bantuan asing bisa berupa pinjaman lunak, hibah, atau bantuan teknis. Sumbernya bisa berupa sebuah pemerintah negara asing, tetapi bisa juga agen-agen internasional. Pinjaman ke negara-negara berkembang dianggap sebagai bantuan asing jika mengandung elemen bantuan, yaitu jika penerima dana mendapatkan kemudahan-kemudahan dibanding jika dia meminjam dari bank-bank komersial dunia. Kemudahan itu bisa berbentuk tiga hal, pertama, tingkat bunga yang rendah, kedua, periode pembayaran yang lebih lama, dan ketiga, grace period (periode dari saat dana tersebut diberikan sampai kewajiban mengangsur pertama kali) yang lebih lama.
            Pinjaman resmi bisa digolongkan ke dua kategori, keras atau lunak, tergantung pada seberapa besar elemen hibahnya. Pinjaman Bank Dunia lebih banyak bebentuk pinjaman keras, akan tetapi pinjaman dari cabang-cabang Bank Dunia, yaitu Internasional Developmant Association (IDA) biasanya bersifat lunak, karena IDA memang dibentuk untuk membantu negara-negara berkembang.
            Bantuan bisa bersifat mengikat atau tidak mengikat. Dikatakan mengikat jika negara donor menekankan bahwa semua impor yang berkaitan dengan bantuan tersebut harus berasal dari negara donor. Pengikatan bisa berbentuk lain, misalnya negara-negara donor hanya mau menyediakan bantuan jika bantuan tersebut bisa memberikan kepada mereka tambahan kesempatan kerja, bisnis atau ekspor.
            Bantuan bisa berbentuk proyek atau program. Bantuan proyek memungkinkan negara donor untuk mengontrol penggunaan uang tersebut. Akan tetapi negara berkembang sering membutuhkan bantuan untuk tujuan-tujuan yang tidak bisa dipaket dalam sebuah proyek seperti itu. Para donor-Bank Dunia dan beberapa lembaga dunai lainnya sebenarnya telah menyadari hal ini dan sejak tahun 1980an telah menyediakan jumlah bantuan yang semakin besar untuk bantuan program ini, dalam rangka mempromosikan apa yang kemudian disebut sebagai penyesuaian struktural. Penyesuaian struktural adalah suatu proses reformasi untuk meningkatkan efisiensi ekonomi.
Bantuan Teknis dan  Organisasi Non Pemerintah
            Satu bentuk khusus dari bantuan asing adalah bantuan teknis atau bantuan kerjasama. Sasarannya adalah untuk menciptakan tenaga berskil dan lembaga-lembaga pendukung akselerasi pembangunan. Wujudnya bisa berupa pengiriman tenaga-tenaga ahli di bidang tertentu ke negara-negara berkembang, bisa juga berupa pendidikan atau training bertempat di negar donor.
            Jika dihitung dari seluruh negara OECD, kerjasama teknis terhitung sekitar 25 persen dari bantuan total, dengan variasi yang besar antar negara. Kebanyakan bantuan teknis disalurkan melalui agen-agen khusus dari PBB, misalnya Food and Agricultural Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO). Kebanyakan pendanaan PBB yang berupa bantuan teknis datang dari United Nations Development Program (UNDP). Proyek-proyek Bank Dunia juga sering mengandung elemen bantuan teknis yang besar.
            Terdapat beberapa masalah dengan bantuan teknis, pertama, bantuan ini sering tidak sesuai dengan kondisi negara penerima. Masalah kedua berhubungan dengan bentuk paling umum dari bantuan teknis tersebut, yaitu pengiriman pakar asing ke negara berkembang, yang di antaranya bertugas melatih tenaga domestik. Meningkatnya penggunaan para sukarelawan dan orang-orang yang bekerja dengan NGO sebagian merupakan tanggapan dari kesulitan-kesulitan semacam ini.
            Peran NGO semakin hari semakin penting dalam pembangunan di negara-negara berkembang. Yang dilakukan oleh NGO-NGO tersebut adalah memberikan bantuan teknis. Kebanyakan berupa sukarelawan muda yang mempersiapkan diri untuk bekerja dengan bayaran kecil dan hidup menyatu dengan masyarakat yang akan mereka tolong. Tugasnya sangat bervariasi. Beberapa dari NGO tersebut telah sangat berperan dalam upaya membangun masyarakat termiskin di negara-negara berkembang, khususnya dengan mengajarkan kemampuan-kemampuan dasar.
Bantuan Bilateral dan Bantuan Multilateral
            Bantuan bilateral adalah bantuan yang langsung diberikan sebuah negara donor ke sebuah negara penerima, sedangkan bantuan Miltilateral adalah bantuan yang tidak langsung diberikan oleh negara donor ke negara penerimanya, tetapi terlebih dahulu melewati lembaga-lembaga keuangan internasional. Negara donor secara umum lebih suka mengalirkan dananya secara balateral karena dengan cara ini mereka bisa mengontrol penggunaan dana tersebut dengan lebih mudah. Biasanya bantuan bilateral lebih mengandung pertimbangan politik di bandingkan dengan bantuan multilateral, sehingga negara penerima bantuan lebih menyukai dana multilateral. Lembaga-lembaga bantuan internasional, terutama Bank Dunia, mempunyai satu peran yang sukar digantikan oleh satu negara donor secara individu, yaitu mengkoordinasi bantuan-bantuan dari berbagai negara donor sehingga tidak terjadi duplikasi. Dengan koordinasi Bank Dunia, maka hal itu bisa dihindari.
            Untuk mendapatkan dana, Bank Dunia mengeluarkan obligasi yang dinominasikan dsalam dolar Amerika di pasar internasional. Bank Dunia meminjamkan lebih dari $30 miliar ke pemerintah-pemerintah negara berkembang secara tahunan, termasuk dana-dana untuk investasi sosial di negara-negara berkembang. Bank Dunia juga menggunakan ahli-ahli perencanaan dan teknisnya untuk meningkatkan standar proyek-proyek di negara berkembang supaya memenuhi standar perbankan sehingga lebih mudah mengakses pasar uang.
            IMF menyediakan kredit bagi negara berkembang yang mengalami masalah neraca pembayaran senilai porsi cadangan yang dimiliki. Jika masalah yang dihadapi lebih serius, IMF memberikan skema-skema pinjaman khusus yang lain.
            Kritik negara-negara berkembang terhadap IMF adalah bahwa IMF menganggap masalah-masalah neraca pembayaran internasional hanya bisa dipecahkan dengan mengurangi program-program sosial, memotong subsidi, mendepresikan mata uang, dan mengadakan restrukturasi. Mereka menganggap bahwa tekanan IMF pada tindakan drastis dalam jangka pendek seperti itu akan membebani negara-negara berpendapatan rendah yang akan mengurangi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar.
            Selain Bank Dunia dan IMF, sumber multilateral yang lain dari pinjaman luar negeri adalah Asian Development Bank.bertusas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia.
Volume  Bantuan
            Bantuan asing adalah bagian dari aliran sumber dana ke negara berkembang. Komponen bantuan dalam aliran total sumber dana ke negara-negara berkembang tidak banyak berubah, meskipun porsi negara-negara yang menyumbang mengalami perubahan.
            Sepanjang tahun-tahun 1980an bantuan negara-negara OECD adalah 80 persen dari bantuan pembangunan resmi bilateral dunia ke negara-negara berkembang. Akan tetapi pada awal tahun-tahun 1990an, setelah tumbangnya sosialisme dan sekitar satu dekade turunnya surplus OPEC, sumbangan OECD meningkat menjadi 98 persen dari total bantuan.
            Bantuan asing (ODA) Amerika Serikat pada tahun-yahun 1960an, 1970an dan 1980an merupakan yang tertinggi di antara negara-negara OECD. Sepanjang periode yang sama, persentase bantuan terhadap GNP negara-negara OECD yang lain berada pada tingkat lebih dari 0,40 persen sebelum turun menjadi 0,39 pada tahun 1992 dan 0,38 persen pada tahun 1993.
SASARAN DAN TUJUAN BANTUAN
Bantuan asing menjadi dana tambahan bagi tabungan domestik negara berkembang untuk meningkatkan pembangunan ekonomi. Bantuan tersebut untuk membangun sarana dan prasarana. Selain itu bantuan juga bisa berbentuk upaya menolong penduduk dari musibah.
 Bantuan dimotivasi berbagai hal seperti motivasi moral, politik maupun komersial. Motivasi moral bisa berupa keinginan untuk menyeimbangkan kehidupan negara maju – negara berkembang atau kompensasi negara-negara Barat atas penjajahan di masa kolonial ( politik etis). Motivasi komersial bisa berupa perhitungan bahwa pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang akan memberikan berbagai manfaat pada negara donor karena majunya negara berkembang berarti pasar baru bagi ekspor produk industrinya dan pasokan bahan mentah yang murah.
Bantuan yang bertujuan untuk memajukan perekonomian ataupun membebaskan penduduk dari musibah mendapat kritik. Kritik tersebut antara lain :
1)      Argumentasi bahwa bantuan cenderung mengambil bentuk proyek-proyek skala besar karena lebih mudah di administrasi.
2)      Penggunaan tekhnologi tinggi yang padat kapital sehingga tidak memberi penghasilan tambahan pada sumberdaya lokal.
3)      Bantuan menimbulkan inefisiensi dan korupsi
4)      Dugaan bahwa bantuan asing tidak menambah tabungan domestik tetapi hanya menggantikannya,
5)      Argumentasi bahwa negara berkembang belum mempunyai sarana dan prasarana pendukung untuk mendukung dana asing tersebut.
Kaum Marxist memandang bahwa bantuan adalah hanya penundaan terhadap revolusi yang diperlukan sebelum pembangunan yang tepat bisa dimulai. P.T Bauer menekankan bahwa bantuan tidak diperlukan bagi pembangunan juga bukan syarat yang cukup bagi pembangunan. Hal ini bisa terjadi di negara-negara yang pemerintahnya mengambil kebijakan yang tidak tepat. Tetapi, bantuan tersebut juga berhasil meningkatkan pembangunan di negara-negara yang mempunyai keinginan kuat untuk maju, seperti  Taiwan dan Korea Selatan yang berhasil memanfaatkan bantuan luar negeri untuk memajukan perekonomiannya.
Pada tahun  1970-an banyak negara donor mengubah strateginya, tidak terlalu berfokus lagi pada peningkatan pertumbihan ekonomi tetapi lebih pada kebijakan untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar. Karena beberapa negara berkembang yang mendapat bantuan bisa memajukan perekonomiannya tetap saja ada orang miskin, pengangguran dan kelaparan di negara tersebut.
Bantuan luar negeri tampaknya akan terus mengalir karena banyak pihak yang tertarik dengan industri ini dan telah menjadi tempat untuk mencari nafkah serta meendatangkan manfaat bagi beberpa pelaku ekonomi.
2.4  Investasi Asing Langsung sebagai sumber Dana pembangunan
Investasi asing langsung ( foreign direct investment, FDI ) adalah aliran dana dari sebuah perusahaan di luar negeri yang diwujudkan dalam bentuk perusahaan ( biasanya cabang dari perusahaan di negara asalnya) di negara lain, misalnya pabrik perakitan Tv milik Jepang di Indonesia. Tahun 1960-an kebanyakn Fdi bergerak di bidang pertambangan, eksplorasi minyak serta perkebunan, meskipun beberapa perusahaan multinasional tersebut berinvestasi dalam manufakturing terutama dalam industri-industri substitusi impor.
Sejarah Investasi Asing Langsung
Setelah mengalami penurunan pada tahun 1970-an, FDI meningkat lagi mulai pertengahan 1980-an. Dibandingkan dengan awal kemunculannya tahun 1960-an terdapat beberpa perubahan, yaitu :
a         Jepang yang pada tahun 1960-an belum banyak mengalirkan dana, pada tahun 1980-an menjadi investor tunggal terbesar,
b        Pada tahun 1980-an lebih banyak bergerak pada bidang industri, jasa keuangan dan turisme bukan lagi mineral dan minyak,
c         Tahun 1980-an lebih banyak mengalir ke negara-negara yang industrialisasinya berorientasi ekspor.
Tujuan utama FDI adalah negara-negara NICs dari Asia Timur dan beberapa negara di Amerika Latin. Fennomena FDI mengikuti sindrom angsa terbang yaitu berpindah-pindah antarnegara mencari tempat dimana upah buruh masih murah.
Pengaruh investasi asing langsung di negara berkembang
MNCs adalah bermanfaat karena memasok kapital dan teknologi maju yang penting untuk pertumbuhan yang cepat. Beberapa yang lain percaya bahwa ketergantungan terhadap kapital dan teknologi semacam itu justru menghambat pembangunan.
Keuntungan dari MNCs;
a         Menutup gap tabungan atau gap devisa (devisit neraca pembayaran)
b        Menyediakan barang dan jasa khusus yan g penting untuk domestik
c         Menyediakan teknologi untuk meningkatkan produktifitas
d        Mendorong munculnya te3knologi yang tepat dengan mengadaptasi proses yang telah ada dengan peralatan penemuan baru
e         Menutup kekurangan dalam manajemen dari kewirausahaan
f         Meningkatkan akses ke bank, pasar, dan sumberdaya alam di luar negeri
g        Melatih manajer dan teknisi domestik
h        Menyediakan lapangan kerja, khusunya dalam pekerjaan berskill
i          Memunculkan penerimaan berbagai macam pajak
j          Meningkatkan efisiensi dengan mengganti impediments pada perdagangan bebas dan pergerkan faktor produksi
k        Meningkatkan pendapatan nasional melalui peningkatan spesialisasi dan economies of scale
Kerugian akibat MNCs :
a.       Meningkatkan ketergantungan tekhnologi negra berkembang pada sumber-sumber asing yang berujung pada kurangnya inovasi teknologis pekerja lokal
b.      MNCs sangat membatasi transfer paten, rahasia perusahaan dan pengetahuan teknis yang lain pada cabangnya yang bisa dipandang sebagai sebuah lawan yang potensial.
c.       Meningkatkan konsentrasi teknologi dan industri di kawasan tertentu
d.      Menghambat klewirausahaan dan investasi lokal di industri-industri muda
e.       Memperkenalkan produk, tekhnologi dan pola konsumsi yang tidak sesuai di negara penerima FDI
f.       Mempertinggi tingkat pengangguran karena penggunaan tekhnologi padat modal
g.      Meningkatkan ketidaksamaan pendapatan karena beberapa FDI berinvestasi di bidang-bidang yang di proteksi pemerintah sehingga pesaingnya di dalam negeri akan dirugikan dan pendapataannya turun
h.      Membatasi ekspor cabang ketika dia menyaingi pasra perusahaan induknya di luar negeri
i.        Menyatakan kewajiban pajak terlalu rendah dengan mempertinggi biaya investasi, menilai terlalu tinggi input-input yang di transfer dari cabang-cabang yang lain dan menilai terlalu rendah output yang dijual di antara MNC ke negara lain
j.        Mewajibkan perusahaan cabang untuk membe;li input dari perusahaan induk daripada membeli dari perusahaan-perusahaan domestik
k.      Merepatriasi dana dalam jumlah besar –keuntungan, royalti, dan fee manajerial dan jasa- yang menyumbang pada defisit neraca pembayaran pada tahun berikutnya setelah aliran kapital masuk
l.        Mempengaruhi kebijakan pemerintah ke dalam arah yang tidak di inginkan ( contoh ; pemebrian proteksi berlebihan, konsesi pajak, subsidi, atau pembangunan infrastruktur khusus)
m.    Meningkatkan intervensi asing pada proses politik domestik
n.      Menarik tenaga lokal personal dari perusahaan domestik
o.      Menyerap dana lokal untuk melengkapi dana dari negara asalnya sehingga memperkecil investasi di sektor yang lain di negara penerima FDI tersebut.
Satu sikap yang harus di ambil dalam menghadapi MNCs disarankan oleh Sanjaya Lall adalah selalu berhati-hati dalam berhadapan dengan MNCs. Negara-negara berkembang harus bisa melakukan tawar-menawar dengan MNCs untuk menggunakan tekhnologi yang membawa penambahan kesempatan kerja yang besar, outputnya tidak mematikan produsen dalam negeri serta bersedia melakukan proses alih tekhnologi setelah jangka waktu tertentu.
FDI tidak bisa di golongkan dalam bantuan karena tujuannya adalah semata-mata untuk mencari keuntungan. Pemilik Fdi mendapat keuntungan seperti upah buruh murah, pasara yang relatif masih baru, ataupun bahan baku murah. Terkadang FDI di bentuk dengan motivasi untuk menghindari pajak impor di negara tujuan FDI tersebut.
 Perlu kita lihat bahwa pemerintah – pemerintah Negara berkembang sekarang tidak sempat lagi melihat kerugian dari MNCs, danberlomba – lomba untuk menarik MNCs ke negaranya, karena membutuhkan dana pembangunan yang sangat besar; bahkan kedatangan MNCs sering dijadikan indicator pulihnya ekonomi bagi beberapa Negara yang tengah terlanda krisis ekonomi, semisal Negara Indonesia tercinta.
2.5  Pinjaman Bank Komersial sebagai Sumber Dana Pembangunan dan Krisis Hutang Luar Negeri
Sampai dengan tahun 1970-an pinjaman dari bank – bank komersial belum merupakan komponen yang besar dalam total aliran sumber dana. Perannya baru membesar setelah terjadinya dua peristiwa kenaikan harga minyak dunia (tahun 1973 dan 1982). Negara –negara produsen minyak Timur Tengah, anggota OPEC, tiba – tiba menjadi sangat kaya karena harga minyak meningkat luar biasa. Pendapatan minyak tersebut kemudian dideposiyokan di bank – bank komersial internasional. Bank – bank tersebut kemudian membutuhkan peminjam, padahal langganan peminjamnya, yaitu Negara – Negara industry maju , sedang teranda resesi oleh kenaikan harga minyak tersebut dan tidak ingin banyak pinjaman. Maka uang – uang tersebut dipinjamkan kenegara – Negara Dunia Ketiga, yang kebetulan juga sedang membutuhkan dana karena ingin lepas dari pengaruh FDI.
Meminjamkan dana pada pemerintah, biasa dinamakan sovereign lending,  dianggap sangat aman karena pemerintah sebuah Negara tentu saja tidak akan pernah bangkrut , karena mereka selalu bisa menggali dana dari pajak.
Sampai tahun 1981, tujuh Negara peminjam terbesar yaitu Brazil, Meksiko, Venezuela, Argentina, Korea Selatan, Indonesia dan Filipina, jumlah pinjaman hanya di bawah US$ 300 milyar. Beberapa Negara bisa menggunakan pinjaman – pinjaman tersebut untuk membiayai proyek – proyek yang menghasilkan return sehingga akan bisa mengembalikan hutangnya, dan masih menyimpan  sisa keuntungan, guna melanjutkan investasi tanpa harus meminjam lagi.
Jika Negara – Negara donor pemberi bantuan dan perusahaan multinasional mempunyai pengalaman dalam menilai apakah suatu investasi akan bisa membiayai dirinya sendiri atau tidak, bank – bank komersial tidak mempunyai pengalaman semacam itu dan kadang – kadang sama cerobohnya dengan negara – Negara yang mereka beri pinjaman.mereka bersedia memberi pinjaman kepada Negara – Negara seperti Nigeria, hanya karena melihat pendapatan ekspornya meningkat setelah ditemukannya tambang minyak. Bank komersial tersebut tidak  memeriksa apakah proyek yang dibiayai Nigeria akan menghasilkan return atau tidak.
Karena pinjaman dari perbankan internasional utamanya didominasikan dalam dolar Amerika dan menggunakan system kurs mengambang yang akan berfluktuasi dengan naik – turunnya tingkat bunga, para peminjam merasakan bahwa beban hutang mereka tiba – tiba saja menjadi sangat berat, yang berada di luar kemampuan mereka untuk membayarnya. Inilah awal dari gejala yang kemudian dikenal sebagai krisis hutang luar negeri.
Masalah hutang menjadi dominan pada tahun – tahun 1980-an. Dua upaya berskala global telah dibuat untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu rencana baker pada tahun 1985 dan rencana brady pada tahun 1989. Meskipun sejumlah Negara masih mempunyai hutang yang besar, masalah tersebut secara bertahap telah berkurang sejak akhir 1980-an, dengan turunya tingkat bunga dan pulihnya ekonomi di Amerika Serikat sehingga permintaan akan barang – barang ekspor Negara berkembang mulai naik lagi, yang memungkinkan Negara –negara berkembang untuk memenuhi kewajiban hutang luar negerinya. Pada pertengahan tahun 1997 terdapat krisis sususlan ketika nilai tukar dolar mengalami kenaikan yang luar biasa  di Thailand , sehingga Thailand mengalami kesulitan dengan neraca pembayarannya dan tidak bisa membayar kembali hutangnya sehingga harus dibantu oleh IMF. Menyusul kemudian Negara –negara Malaysia, korea selatan , dan Indonesia mengalami kesulitan yang sama.
2.6  Remittances (kiriman) pekerja nasional yang bekerja di luar negeri sebagai sumber dana pembangunan
Remittances dari pekerja nasional yang bekerja di luar negeri membantu menutup gap  deficit devisa sebuah Negara. Remittances ini, terutama dari migran negara - negara di seluruh dunia ke eropa dan negara – negara teluk Persia yang kaya minyak, migran migran amerika latin ke Negara pengekspor minyak Venezuela, migran Amerika Tengah ke Amerika Serikat, dan migran Negara –negara tetangga ke afrika selatan, Nigeria , gabon dan Ivory Coast. Kebanyakan dari 7 negara  pertama, persentase remittances turun drastic sepanjang jatuhnya harga minyak dari tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Kecenderungan rata –rata mengirimkan uang ke negaranya adalah 11 persen untuk pekerja – pekerja Turki dan 50 persen untuk pekerja – pekerja Pakistan. Kiriman dari para pekerja di luar negeri tersebut memungkinkan kerabat keluarganya di Negara –negara berkembang tersebut untuk meningkatkan standar hidupnya secara substansial, meskipun persebarannya antar Negara dan juga antara penduduk dalam sebuah Negara sangat  tidak merata.

hubungan biaya produksi dengan harga jual


HUBUNGAN BIAYA PRODUKSI
DENGAN HARGA JUAL PRODUK
(Kasus Pada PD Balong Indah Mebel)
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Akuntansi Biaya

Disusun oleh
Ano Suharno               2010021019
Lutfi Rohmawati        2010021131
Kelas 2C


PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KUNINGAN
2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Setiap perusahaan pada umumnya bertujuan untuk memperoleh laba yang semaksimal mungkin . Hal tersebut tidaklah mengherankan karena dengan laba yang diperolahnya itu dapat mempertahankan hidupnya dan memperluas usahanya. Sehingga bagi seorang pimpinan akan terus berusaha untuk meningkatkan laba yang diperolehnya. Hal ini dikarenakan jumlah laba yang di dapat oleh suatu perusahaan dapat dijadikan sebagai sebuah acuan maupun ukuran kemajuan sebuah perusahaan. Selain itu laba yang diperoleh dapat juga dijadikan sebagai suatu gambaran keberhasilan seorang pimpinan didalam memanajemen perusahaannya. Laba dapat diperoleh apabila suatu perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan sejenis. Persaingan tersebut selain dari mutu yang dihasilkan, juga persaingan dalam hal menentukan harga jual. Karena konsumen biasanya akan mencari produk dengan harga yang wajar dengan kualitas yang memuaskan.
Untuk memperoleh laba, suatu perusahaan dapat melakukan dua cara. Cara pertama dengan menaikan harga jual. Tindakan ini memang dapat meningkatkan laba,akan tetapi dalam kondisi persaingan yang semakin ketat ini,perusahaan tidak mudah untuk menaikan harga jual karena dapat menyebabkan konsumen lari ke produk pesaing yang memiliki harga yang lebih murah dengan kualitas produk yang sama. Cara kedua adalah dengan menekan biaya produksi secara efisien dan mengendalikan komponen biaya-biayanya sehingga biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditekan seminimal mungkin. Biaya produksi yang tidak terkendali akan menyebabkan harga pokok terlalu tinggi, yang selanjutnya akan menurunkan daya saing produk dan akhirnya dapat menurunkan laba. Maka dari itu biaya produksi harus dicatat dengan baik dan dihitung dengan benar sehingga dapat menghasilkan harga pokok produk yang tepat. Dengan demikian perusahaan dapat menetapkan harga jual yang kompetitif,yang dapat mengoptimalkan laba sekaligus memenuhi tuntutan konsumen.
Agar harga jual dapat ditetapkan dengan memadai, dalam arti harga jual tersebut minimal dapat menutupi biaya yang dikeluarkan, harga jual dapat bersaing dengan perusahaan sejenis, dan harga jual mengandung laba yang dapat diharapkan perusahaan, maka satu cara yang digunakan adalah dengan menghitung terlebih dahulu harga pokok produksi.
Tanpa adanya perhitungan harga pokok produksi yang tepat dan benar, maka perusahaan yang bersangkutan tidak akan mengetahui dengan pasti keuntungan yang diperolehnya atau mungkin juga kerugian yang dideritanya.untuk itu perusahaan merasa perlu untuk menggunakan sistem akuntansi biaya. Melalui sistem akuntansi biaya ini perusahaan akan memperoleh informasi–informasi biaya yang dibutuhkan untuk setiap produk pesanan dalam rangka menghitung biaya-biaya produksi yang diperkirakan terjadi.Walaupun informasi biaya bukanlah satu-satunya informasi yang dibutuhkan manajemen, akan tetapi paling tidak informasi biaya dapat mencerminkan unsur-unsur biaya secara rinci dari produk yang dihasilkan, karena pastinya biaya produksi akan sangat mempengaruhi harga jual suatu produk.

1.2     Perumusan Masalah
Karangan ilmiah ini akan menyajikan dan membahas secara sederhana mengenai akuntansi biaya dan beberapa hal yang tentunya berhubungan dengannya. Selain itu secara lebih khusus dan spesifik karangan ilmiah ini akan menyajikan data mengenai biaya – biaya produksi melalui “hubungan antara biaya produksi dengan harga jual suatu produk”. Adapun data yang disajikan merupakan suatu data hasil survey langsung pada pelaku usaha yaitu perusahaan mebel PD Balong Indah.

1.3     Tujuan Penelitian
Penelitian yang kami laksanakan ini bertujuan untuk:
a.       Mempelajari dan menyajikan atau mengimplementasikan akuntansi biaya secara sederhana, terutama dalam hal hubungan biaya produksi dengan harga jual suatu produk.
b.      Sebagai langkah awal dan pembelajaran dalam penyusunan sebuah karangan ilmiah
c.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Biaya














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Pengertian Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara – cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.
2.2     Pengertian Biaya
Menurut Hansen dan Mowen (2004;40), biaya didefinisikan sebagai “kas atau nilai kuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini atau di masa yang akan dating bagi organisasi.” Sedangkan menurut Supriyono (2000;185), biaya adalah pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang dan jasa.
Pengertian biaya menurut Harmanto dan Zulkifli (2003 ;14) adalah sesuatu yang berkonotasi sebagai pengurang yang harus dikorbankan untuk memperoleh tujuan akhir yaitu mendatangkan laba.
Jadi, menurut beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan kas atau nilai ekuivalen  kas yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan guna untuk memberikan suatu manfaat yaitu peningkatan laba di masa mendatang.
2.3     Pengertian biaya Produksi
Biaya produksi adalah biaya – biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Menurut objek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik (factory overhead cost).
2.4     Pengertian Biaya Bahan Baku
Bahan baku (Raw Material) adalah bahan yang digunakan dalam membuat produk dimana bahan tersebut secara menyeluruh tampak pada produk jadinya (atau merupakan bagian terbesar dari bentuk barang). Sedangkan biaya bahan baku (raw material cost) adalah seluruh biaya untuk memperoleh sampai dengan bahan siap untuk digunakan yang meliputi harga bahan, ongkos angkut, penyimpanan dan lain – lain.
2.5     Pengertian Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja ( direct labor cost ) adalah semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan, elemen biaya tenaga kerja yang merupakan niaya produksi adalah biaya tenaga kerja untuk karyawan pabrik.
2.6     Pengertian Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Contohnhya adalah mandor, biaya bahan baku pembantu, biaya sewa pabrik, biaya air dan listrik pabrik, pemeliharaan mesin dan lain – lain.
Biaya overhead pabrik dapt digolongkan dengan 3 cara penggolongan yaitu;  penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya, penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen.
2.7     Metode Pengumpulan Biaya Produksi
Metode pengumpulan biaya produksi tergantung  dari sifat pengolahan produk, pengolahan produk dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu: prngolahan produk berdasarkan pesanan dan pengolahan produk yang merupakan produksi massa.
Oleh karena itu metode pengumpulan biaya produksi dibedakan menjadi 2 yaitu:
a         Metode harga pokok pesanan ( job order cost method )
b        Metode harga pokok proses ( process cost method )

2.7.1.       Harga Pokok Pesanan
Harga pokok pesanan adalah cara perhitungan harga poko produksi untuk produk yang dibuat berdasarkan pesanan. Apabila suatu pesanan diterima segera dikeluatkan perintah untuk membuat produk sesuai dengan spesifikasi masing – masing pesanan.
Ciri khusus harga pokok pesanan yaitu:
a.       Tujuan produksi perusahaan adalah untuk melayani pesanan pembeli yang bentuknya ter gantung pada spesifikasi pesanan, sehingga sifat produksinya terputus – putus dan setiap pesanan dapat dipisahkan identitasnya secaa jelas.
b.      Biaya produksi dikumpulkan  untuk setiap pesanan dengan harga pokok pesanan dengan relative teliti dan adil. Dihubungkan dengan system akuntansi yang digunakan untuk membebankan harga pokok kepada produk.
Metode harga pokok pesanan hanya dapat menggunakan:
1.      System haraga pokok historis untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, untuk ketelitian dan keadilan pembebanan biaya overhead pabrik harus digunakan tariff biaya yang ditentukan dimuka.
2.      Dalam metode harga pokok  pesanan dapat pula digunakan system harga pokok yang ditentukan dimuka untuk seluruh elemen biaya produksi.
c.       Biaya produksi dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1.      Biaya langsung meliputi biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya langsung diperhitungkan terhadap masing – masing pesanan berdasarkan biaya yang sebenarnya.
2.      Biaya tidak langsung meliputi biaya produksi diluar biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Biaya tidak langsung dibebankan ketiap – tiap pesanan berdasarkan tariff yang ditentukan dimuka (predetermined Rate).
d.      Harga pokok pesanan untuk tiap pesanan dihitung pada waktu pesanan yang bersangkutan selesai diproduksi.
e.       Harga pokok satuan ditetapkan dengan cara membagi total biaya suatu pesanan dengan jumlah satuan produk pesanan yang bersangkutan.
f.       Untuk mengumpulkan biaya produksi masing – masing pesanan, dipakai kartu harga pokok pesanan. Kartu harga pokok pesanan adalah cara perhitungan harga pokok produksi untuk produk yang dibuat berdasarkan pesanan.

Karakteristik perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan:
1.      Proses pengolahan produk terjadi secara terputus – putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan proses produksi mulai dihentikan dan mulai dengan pesanan berikutnya.
2.      Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasinya yang ditentukan oleh pemesan yang satu dapat berbeda dengan yang lainnya.
3.      Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persdiaan di gudang.

2.7.2.       Harga Pokok Proses
Harga pokok proses dapat diartikan sebagai pegumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang mengolah produknya secara massa. Dalam metode harga pokok proses ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi  dalam periode tertentu dengan jumlah satuan  produk yang dihasilkan dari proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.
 Adapun karakteristik usaha perusahaan yang berproduksi secara massa yaitu:
a.       Produk yang dihasilkan merupakan produk standar.
b.      Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.
c.       Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu.
Sedangkan karakteristik metode harga pokok proses sendiri yaitu:
a         Pengumpulan biaya produksi per departemen produksinya per periode akuntansi.
b        Perhitungan Hpp per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasikan selama periode yang bersangkutan.
c         Penggolongan biaya produksi langsung dan tak langsung tidak diperlukan.
d        Elemen yang digolongkan dalam BOP terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja. Dimana BOP dibebankan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi.

2.8  Harga Jual
Pengertian harga jual menurut Mulyadi:
“Harga Jual suatu produk terbentuk dipasar sebagai interaksi antara jumlah permintaan dan penawaran dipasar”.
             Menurut Garisson /Norren harga jual dapat diartikan sebagai berikut:
Harga penjualan adalah biaya produksi ditambahkan kepersentase mark up atau laba”
Berdasarkan pengertian diatas bahwa harga penjualan suatu produk sangat dipengaruhi oleh biaya produksi. Seperti yang kita ketahui bahwa biaya produksi merupakan faktor yang sangat menentukan tinggi atau rendahnya harga produk yang akan dihasil kan atau ditawarkan kepada konsumen.
Jika salah satu biaya produksi seperti biaya bahan baku melambung tinggi maka perusahaan harus mengambil keputusan yaitu tetap memproduksi produk dengan jumlah unit produk yang sama tetapi dengan menaikan harga jual dari produk tersebut, kedua menurunkan jumlah unit produk yang diproduksi dengan tidak merubah harga jual produk.
Dengan adanya perubahan atau peningkatan biaya produksi maka akan lebih relevan bila hal tersebut dikaitkan dengan pencapaian tujuan perusahaan dalam memperoleh pendapatan, serta pengaruhnya terhadap harga dan volume penjualan produk pada perusahaan tersebut.
Satu hal yang juga perlu mendapat perhatiaan penting dari perusahaan adalah bahwa peningkatan biaya itu bisa disebabkan oleh faktor – faktor tertentu, baik itu faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yaitu keadaan dari dalam lingkungan perusahaan selama melakukan proses produksi sampai menghasilkan suatu produk jadi, seperti apakah perusahaan dapat menyelesaikan produknya dalam jangka waktu yang telah direncanakan dan ditetapkan atau tidak. Karena kalo tidak hal tersebut dapat menambah biaya produksi bagi perusahaan sehingga akan dapat mempengaruhi harga jual yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor diluar lingkungan perusahaan.









BAB III
OBJEK PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1     Objek Penelitian
Penelitian yang kami lakukan pada hari jum’at tepatnya tanggal 18 Mei 2012 melibatkan perusahaan meubel yang berada di daerah Cimindi. Dimana perusahaan meubel tersebut diberi nama PD Balong Indah , yang dikelola oleh Bapak Hamim.
3.2     Sejarah Singkat PD Balong Indah
Pada awalnya usaha meubel ini berdiri pada tahun 1994 yang bertempat di daerah Luragung, dengan modal awal sebesar Rp.1.600.000,00 dan dibantu dengan 3 orang tenaga kerja.
Awal tahun 1998 usaha meubel ini kemudian beralih tempat dari Luragung ke kadugede dengan bermodal kan sebesar Rp 7.000.000,00 dan mempekerjakan sekitar 7 orang tenaga kerja.
Setelah itu pada awal tahun 2008 usaha meubel yang dirintis oleh Bapak Hamim ini kemudian beralih tempat lagi dari Kadugede ke Cibinong dengan tujuan untuk memperbaiki usaha yang ia jalankan. Usaha yang berada di cibinong  berjalan sampai sekarang dengan nama PD Balong Indah yang bergerak dalam usaha meubel. Untuk mengawali usaha PD Balong Indah ini, modal awal yang dikucuekan oleh pemilik yaitu sebesar Rp. 17.000.000,00 dan memperkerjakan 4 0rang tenaga kerja.
3.3     Struktur Organisasi
Sangat sederhana untuk menggambarkan struktur organisasi yang ada di PD Balong Indah tersebut. Untuk mengelola dan mengawasi usaha meubel tersebut, pemilik yaitu Bapak Hamim terjun langsung dalam mengelola usaha yang ia bangun, selain itu pemilik usaha meubel tersebut kerap kali terjun langsung dalam mengelola pesanan dalam artian selain menjadi pemilik dan pengelola Bapak Hamim juga merangkap menjadi seorang tenaga kerja.
3.4     Pembahasan
3.4.1         Bahan dan Alat Produksi
a.       Bahan
Dalam penelitian ini kami akan lebih memfokuskan pada pembuatan pesanan kursi makan pada bulan Mei 2012, dimana dalam bulan Mei 2012 perusahaan PD Balong Indah mendapatkan pesanan kursi makan sebanyak 4 set. Secara umum bahan – bahan yang dibutuh kan untuk pembuatan kursi bukan hal yang asing, mungkin sebagian orang juga mengetahuinya. Dimana bahan utama untuk membuat kursi tentunya dibutuhkan kayu. Secara terperinci bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan kursi makan yaitu:
Bahan pmbuatan kursi makan
No
Keterangan
1.       
Kayu
2.       
Lem
3.       
Paku
4.       
Plitur
5.       
Sirlak
6.       
Spritus
7.       
Sinderlak
8.       
Hampelas

b.      Alat
Alat yang digunakan dalam pembuatan kursi makan pada PD Balong Indah ini dapat dilihat pada table dibawah ini.
Alat Produksi
No
Keterangan
1.       
Serut mesin
2.       
Bor
3.       
Gergaji (pemotong + pembelah)
4.       
Meteran
5.       
Siku
6.       
Pinsil
7.       
Mesin hampelas
8.       
Kompresor
9.       
Spet
10.   
Palu
11.   
Koas

3.4.2         Siklus Produksi
Dalam siklus produksi usaha meubel PD Balong Indah, kami mengasumsikan bahwa berdasarkan penelitian kami siklus penjualan di PD Balong Indah tersebut siklus produksinya berdasarkan jumlah pesanan yang masuk ke PD Balong Indah. Dimana siklus ini dimulai dari pemilik menerima pesanan dari konsumen, kemudian pemilik berbelanja bahan untuk keperluan pesanan, proses pembuatan dan proses pengiriman barang pada konsumen.
3.4.3         Biaya Produksi PD Balong Indah
Berdasarkan informasi yang telah kami peroleh di perusahaan, maka yang menjadi biaya produksi di PD Balong Indah terbagi menjadi tiga, yaitu: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, serta biaya overhead pabrik.
a.       Biaya Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan PD Balong Indah untuk memperlancar usahanya dalam menghasilkan kursi makan yaitu dapat dilihat pada tabel dibawah ini:



Biaya Bahan – Bahan
No
Keterangan
Banyak
Harga
Total Harga
1.       
Kayu
1 Kubik
Rp 2.500.000
Rp 2.500.000
2.       
Lem
1 Bungkus
Rp      12.000
Rp      12.000
3.       
Paku
¾ Kg
Rp      10.000
Rp      10.000
4.       
Plitur

Rp      55.000
Rp      55.000
5.       
Sirlak
¼ kg
Rp 160.000/ kg
Rp      15.000
6.       
Spritus
5 Liter
Rp       7.500
Rp      37.500
7.       
Sinderlak
½ Bungkus
Rp     15.000
Rp        7.500
8.       
Hampelas
1 m
Rp      6.000
Rp        6.000
Jumlah
Rp 2.643.000

Biaya Peralatan
No
Keterangan
Banyak
Harga
Total
1.   
Serut mesin
4
Rp    300.000
Rp 1.200.000
2.   
Bor
4
Rp    200.000
Rp    800.000
3.   
Gergaji (pemotong + pembelah)
1
Rp    300.000
Rp    300.000
4.   
Meteran
4
Rp      12.000
Rp      48.000
5.   
Siku
4
Rp      20.000
Rp      80.000
6.   
Pinsil
4
Rp        1.500
Rp        6.000
7.   
Mesin hampelas
4
Rp      45.000
Rp    180.000
8.   
Kompresor
1
Rp 2.250.000
Rp 2.250.000
9.   
Spet
1
Rp    350.000
Rp    350.000
10.   
Palu
4
Rp        5.000
Rp      20.000
11.   
Koas
1
Rp        7.000
Rp        7.000
Jumlah
Rp 5.241.000

3.4.4         Biaya Tenaga Kerja
            Pemberian gaji karyawan pada PD Balong Indah ditentukan serta dilakukan secara bulanan. Dimana jumlah karyawan di PD Balong Indah dalam proses produksi dan finishing tenaga kerjanya berjumlah 4 orang.
Adapun ketentuan mengenai biaya tenaga kerja pada PD Balong Indah yaitu gaji pokok setiap tenaga kerja sebesar Rp.45.000,00 per hari. Sehingga dapat dihitung biaya tenaga kerjanya pada PD Balong Indah untuk bulan Mei 2012 yaitu sebagai berikut:
·         Biaya tenaga kerja langsung dengan jumlah tenaga kerja 4 orang.
·         Gaji pokok @ Rp.45.000,00 (30 hari)
·         Rp 45.000,00 x 30 hari = Rp 1.350.000 / Orang
·         Rp. 1.350.000 x 4 orang = Rp 5.400.000

3.4.5         Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik yang terdapat pada PD Balong Indah dapat dilihat pada tabel berikut ini:
No
Keterangan
Per bulan
1.       
Tempat
Rp   208.000
2.       
Listrik
Rp   125.000
3.       
Telepon
Rp   200.000
4.       
Transportasi (BBM)
Rp   500.000
Jumlah
Rp 1.033.000

3.4.6         Perhitungan HPP Total
Sebagaimana asumsi perhitungan pada perusahaan ini adalah berdasarkan pesanan, sehingga HPP total yang dimaksud dalam penelitian ini adalah HPP per bulan (Hpp untuk pesanan bulan Mei 2012, peasanan kursi makan adalah sebanyak 4 set).

No
Keterangan
Per pesanan
1
Biaya Bahan Baku
Rp 2.643.000
2
Biaya Tenaga Kerja
Rp 5.400.000
3
BOP


Tempat
Rp    208.000

Listrik
Rp    125.000

Telepon
Rp    200.000

Transportasi (BBM)
Rp    500.000
Total
Rp 9.076.000

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa diketahui HPP total pada PD. Balong Indah adalah sebesar Rp. 9.076.000

3.4.7         Perhitungan Per Satuan
HPP per satuan yang penyusun maksudkan disini adalah HPP untuk menghasilkan satu set kursi makan, sehingga perhitungan HPP per satuan untuk PD. Balong Indah adalah HPP total per bulan di bagi jumlah pesanan. Perhitungan dapat dirumuskan sebagai berikut:
HPP Per satuan = HPP Total per bulan
Jumlah pesanan
 





Sementara data yang kami dapatkan pada bulan Mei 2012, PD. Balong Indah mendapatkan 4 set kursi makan, maka Hpp per satuannya yaitu:
Hpp per satuan = Rp 9.076.000
                                      4
                         = 2.269.000
Dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa Hpp persatuan (1 set kursi makan) adalah sebesar Rp. 2.269.000

3.4.8         Harga Jual
Mengenai harga jual PD Balong Indah menetapkan harga jual 1 set Kursi makan sebesar Rp. 2.500.000. Dimana harga jual tersebut diperoleh dari perhitungan biaya produksi yang dikeluarkan ditambahkan dengan keuntungan yang di inginkan oleh pihak perusahaan. Adapun biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membuat 1 set kursi makan adalah sebesar Rp. 2.269.000, sedangkan keuntungan yang di inginkan dari pihak perusahaan yaitu sebesar 10% dari biaya produksi.
Perhitungan harga jual adalah sebagai berikut:
Harga Jual = Biaya Produksi + keuntungan
                              = 2.269.000 x 110%
                              =  2495900
  = (dibulatkan menjadi Rp 2.500.000)

Jadi dengan begitu Harga jual 1 set Kursi makan yaitu sebesar Rp 2.500.000, dengan keuntungan sebesar 10% dari biaya produksi.
Maka sudah jelas bahwa terdapat hubungan antar biaya produksi dengan harga jual suatu produk, dimana biaya produksi dapat mempengaruhi harga jual suatu produk, hal ini dikarenakan bahwasannya biaya produksi merupakan suatu faktor yang sangat menentukan tinggi atau rendahnya harga produk yang akan dihasilkan atau ditawarkan kepada konsumen. Apabila biaya produksinya meningkat maka perusahaan itu dapat membuat suatu keputusan apakah harga jualnya akan di naikan atau dengan mencari keputusan yang lain.



BAB IV
KESIMPULAN

Setelah melakukan penelitian dan perhitungan pada PD. Balong Indah dapat diketahui bahwa HPP total pada bulan Mei 2012 adalah sebesar Rp.9.076.000  dan HPP per satuan atau HPP per setnya adalah 2.269.000. Dimana PD Balong Indah menjual 1 set kursi makan dengan harga Rp 2.500.000 dengan  keuntungan yang diambil adalah  sebesar 10% dari biaya produksi.
Jadi, dengan begitu dapat diketahui bahwasannya harga penjualan suatu produk akan sangat dipengaruhi oleh biaya produksi. Yang artinya bahwa terdapat hubungan antara biaya produksi dengan harga jual produk, yaitu biaya produksi merupakan faktor yang sangat menentukan tinggi atau rendahnya harga produk yang akan dihasilkan.
Begitu juga hal ini terjadi pada PD. Balong Indah, setelah penyusun melakukan penelitian dan perhitungan HPP dan Harga Jual produk berdasarkan pesanan. Dimana pesanan pada bulan Mei, PD. Balong Indah mendapatkan pesanan 4 set kursi makan. Harga penjualan produk di PD Balong Indah merupakan hasil penjumlahan biaya produksi dengan laba yang diinginkan oleh pihak perusahaan.









DAFTAR PUSTAKA
Firdaus Ahmad Dunia Wasilah, Akuntansi Biaya, Salemba 4, Jakarta; 2009.
Dwi Arijanto,M.M.,Akuntan, Akuntansi Biaya.(buku diktat).